Minggu, 03 Januari 2010

PROSTITUSI SEBAGAI CONTOH PERILAKU MENYIMPANG DALAM PROSES SOSIOLOGI

PROSTITUSI SEBAGAI CONTOH PERILAKU MENYIMPANG DALAM PROSES SOSIOLOGI

Perilaku menyimpang secara sosiologis diartikan sebagai setiap perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial.

Perilaku menyimpang dalam konteks agama, secara ekstrem perilakunya diberikan stempel sebagai pendosa atau sesat, termasuk ajaran dan faham yang disiarkannya kepada masyarakat dianggap bertentangan dengan syariat maupun akidah agama disebut sebagai ajaran sesat.

Kegiatan prostitusi dalam perkembangannya dewasa ini sangat megkhawatirkan, kita sering lihat dan baca baik di media cetak atau elektronik orang-orang yang terjun ke dunia nista ini selalu meningkat, ada apa sebenarnya dengan perkembangan masyarakat dewasa ini. Dan praktek prostitusi ini sebagai contoh salah satu perilaku menyimpang di masyarakat.

Dilihat dari sisi ilmu sosiologi dimana sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Dalam Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.

Definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli. (Pitirim Sorokin) Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral),  jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain

Jadi berdasarkan Pengertian sosiologi diatas, praktek prostitusi merupakan sebuah gejala penyimpangan sosial yang bisa berawal dari sebuah kondisi keluarga serta dari sebuah interaksi sosial, Interaksi sosial adalah proses saling mempengaruhi dalam hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dan kelompok.

Laurence (1988): Bahwa proses sosialisasi adalah  proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengalaman  dalam suatu kebudayaan belajar  dan dalam berusaha menguasai kebudayaan sebagai aspek perilakunya. Dengan kata lain,Proses sosialisasi adalah  suatu tahapan tahapan dalam pembentukan sikap atau perilaku seorang anak sesuai dengan perilaku atau norma-norma dalam kelompok atau keluarga. Bagaimana ketika pengaruh gejala-gejala sosial tidak saling melengkapi maka akhirnya terjadi perilaku-perilaku yang menyimpang sehingga berpengaruh pada perilaku masyarakat, dan akhirnya menjadi  gejala penyimpangan sosial yang negatif, faktor-faktor kehidupan sosial sangat berpengaruh, terlihat dari banyaknya kasus prostitusi atau orang-orang yang masuk kedalamnya diantaranya dari pergaulan yang tidak baik, taraf ekononomi yang kurang baik, ataupun kondisi keluarga yang rumit misal anak-anak broken home, yang akhirnya mencari pikiran atau jalan pendek muntuk memenhi kebutuhan hidupnya , sungguh sangat disayangkan memang, prostitusi kadang menjadi kehidupan yang selalu berjalan seiring dengan kehidupan sosial ataupun contoh sosiologi yang lain, kadang ada di suatun daerah atau Negara melegalkan prostitusi ataupun membantu kelancaran praktek prostitusi tersebut, faktornya keuntungan yang besar dan banyak cara menjalankan bisnis ini.

Sebagai umat beragama kita sadar jika praktek prostitusi ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur ajaran agama, semua agama mengatakan prostitusi itu tidak baik (haram).

          Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah. Revolusi Perancis berhasil mengubah struktur masyarakat feodal ke masyarakat yang bebas Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah para ilmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyaksikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang , kemiskinan , pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini. Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya. Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal. Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.

Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk , munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan. Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar